PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Banyak sekali orang-orang yang menganggur di Negara kita, bukan karena mereka tidak biasa bekerja melainkan karena pendidikan dan pengetahuan yang kurang. Seharusnya pada usia 15 tahun adalah usia kerja, malah banyak yang tidak bekerja (menganggur). Untuk itu kami menulis makalah ini agar mengetahui penyebab dan masalah-masalah yang terjadi yang mengakibatkan banyak terjadi pengangguran di Negara kita. Apa saja factor penyebab pengangguran, dampak pengangguran, dan contoh-contoh permasalahan pengangguran.
PENGERTIAN PENGANGGURAN
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya. Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan.Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya.Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi.
Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang. DASAR UTAMA KLASIFIKASI PENGANGGURAN
Dasar utama klasifikasi pengangguran dibagi 2 yaitu :
1. Pendekatan angkatan kerja (labour force approach)
Pendekatan ini mendefinisikan pengangguran sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja, perhitungan tingkat pengangguran dalam table 19.8 menggunakan definisi ini.
2. Pendekatan pemanfaatan tenaga kerja (labour utilization approach)
Dalam pendekatan ini, angkatan kerja dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu :
a. Menganggur (unemployed), yaitu mereka yang sama sekali tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Kelompok ini sering disebut juga pengangguran terbuka (open unemployed). Berdasarkan definisi ini, tinfkat pengangguran di Indonesia umumnya relative rendah, yaitu 3%-5% pertahun.
b. Setengah menganggur (underemployed), yaitu mereka yang bekerja,tetapi beluim dimanfaatkan secara penuh. Artinya jam kerja mereka dalam seminggu kurang dari 35 jam. Berdasarkan definisi ini tingkat pengangguran di Indonesia relative tinggi, karena angkanya berkisar 35% pertahun.
c. Bekerja penuh (employed), yaitu orang-orang yang bekerja penuh atau jam kerjanya mencapai 35 jam per minggu.
JENIS-JENIS PENGANGGURAN
Dalam studi ekonomi makro yang lebih lanjut, pembahasan masalah pengangguran akan dilakukan lebih spesifik dan cermat. Misalnya, akan dibahas apakah pengangguran yang terjadi merupakan pengangguran sukarela atau pengangguran dukalara. Pengangguran sukarela yaitu bersifat sementara, karena seeseorang ingin mencari pekerjaan yang lebih baik atau lebih cocok dan penganggurn dukalara yaitu pengangguran yang terpaksa diterima seseorang walaupun sebenarnya dia masih ingin bekerja, kedua pengangguran tersebut erat kaitannya dengan jenis-jenis pengangguran berikut ini :
1. Pengangguran friksional
Apabila dalam periode tertentu perekonomian terus-menerus mengalami perkembangan yang pesat, jumlah dan tingkat pengangguran akan menjadi semakin rendah. Pada akhirnya perekonomian dapat mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh, yaitu apabila pengangguran normal atau pengganguran mencari.Pengangguran jenis ini bersifat sementara dan terjadi karena adanya kesenjangan antara pencari kerja dengan lowongan kerja. Kesenjangan ini dapat berupa kesenjangan waktu,informasi dll.
Pengangguran friksional bukanlah wujud sebagai akibat dari ketidakmampuan memperoleh pekerjaan, melainkan sebagai akibat dari yang lebih baik itu adalakalanya mereka harus menganggur namun hanya bersifat sementara.
2. Pengangguran structural
Dikatakan pengangguran structural karena sifatnya yang mendasar.Pencari kerja mampu memenuhi persyaratan yang dibutuhkan untuk lowongan pekerjaan yang tersedia. Hal ini terjadi dalam produksi dana atau teknologi produksi yang digunakan, menuntut persyaratan tenaga kerja yang juga makin tinggi, misalnya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk industry kimia menuntut persyaratan yang relative berat yaitu pendidikan minimal sarjana muda (D3), mampu menggunakan computer dan menguasai bahasa inggris dengan makin besarnya peranan mekanisme pasar yang semakin mengglobal maka toleransi terhadap kekurang persyaratan tidak ada lagi, jika tetap terjadi kekurangan dapat diatasi dengan mendatangkan tenaga kerja asing.
Dilihat dari sifatnya pengangguran structural lebih sulit diatasi dibandingkan dengan pengangguran friksional karena membutuhkan pendanaan yang besar dan waktu yang lama.
1. Pengangguran siklis
Pengangguran siklis yaitu pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan dalam tingkat perekonomian, pada waktu kegiatan ekonomimengalami kemunduran, perusahan-perusahan harus mengurangi kegiatan memproduksi. Dalam pelaksanaanya berarti jam kerja dikurangi, sebagian mesin tidak digunakan dan sebagian tenaga kerja diberhentikan dengan demikian kemunduran ekonomi akan menaikan jumlah dan tingkat pengangguran.
Tenaga kerja akan terus bertambah sebagai akibat pertambahan penduduk. Apabila kemunduran ekonomi terus berlangsung sehingga tidak akan menjadi bertambah serius. Berarti diperlukan kebijakan-kebijakan ekonomi guna meningkatkan kegiatan ekonomi dan harus diusahakan pasar tenaga kerja.
2. Pengangguran musiman
Pengangguran ini berkaitan erat dengan fluktuasi kegiatan ekonomi jangka pendek, terutama terjadi di